Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak khusus pakan ayam. Jagung mempunyai nilai gizi yang tinggi dan mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi pula, hampir sama dengan kandungan yang ada pada beras. Jagung juga dapat dijadikan panganan bagi penderita penyakit tertentu seperti diabetes. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula.
Usaha
peningkatan produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua
program utama yaitu yakni : (1) ekstensifikasi (perluasan areal) dan (2)
intensifikasi (peningkatan produksi). Program perluasan areal
pertanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah,
baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalu pengaturan pola
tanam. Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi
adalah dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen
pengelolaan. Usaha-usaha tersebut nyata meningkatkan produktivitas
jagung terutama dengan penerapan inovatif yang lebih berdaya saing
(produktif, efisien dan berkualitas).
Teknik Budidaya1. Benih
Benih yang digunakan pada awal mereka berusaha tani jagung adalah menggunakan varietas NT10 dan selanjutnya menggunakan varietas – varietas unggul yang lainnya seperti NK 22 Super Jumbo, BISI 222 yang sudah distraitmen mengunakan redomil. Varietas unggul ini digunakan karena bisa meningkatkan produksi dari 2,5 ton/Ha menjadi 12,6 ton/Ha. Mereka menggunakan varietas – varietas unggul ini juga untuk menekan serangan hama dan penyakit
2. Penyiapan lahan
Penyiapan lahan dilakukan dengan 2 cara yaitu sistem TOT dan pengolahan secara intensif mengunakan mini traktor. Pembajakan tanah dilakukan dengan membalik tanah lapisan atas kemudian dilanjutkan pembuatan larik tanam. Pengolahan tanah menggunakan Hand Tractor mampu mempercepat pembukaan lahan dan persiapan tanam. Sebelum melakukan penanaman tersebut dilakukan penjemuran yang tujuannya adalah untuk menekan pertumbuhan jamur,hama dan penyakit
3. Pemupukan dasar
Pemupukan dasar diberikan seminggu sebelum tanam. Dengan mengunakan pupuk kandang ayam petelur yang sudah dicampur dengan kapur dolomit sebanyak 4- 7 ton/ha ditambah dengan 150 kg pupuk Sp- 36 yang ditaburkan merata pada larikan lubang tanam.
4. Penanaman
Penanaman jagung dilakukan dengan mengunakan tugal dengan sistem zigzag dalam barisan tanaman dengan jarak tanam 70 x 20 cm, dengan jumlah 1 biji/lubang tanam sehingga dapat dihasilkan sekitar 70.000 populasi tanaman/Ha. Keuntungan tanam cara ini;perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik, pencahayaan lebih merata, tanaman tumbuh kuat dan kokoh.
5. Pemeliharaan
a. Pengendalian Gulma
Pemeliharaan tanaman jagung meliputi pengendalian gulma, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian gulma dilakukan sesuai kondisi gulma dan pertumbuhan tanaman jagung, yaitu saat tanaman berumur 10 HST dengan penyemprotan herbisida Karalis 1,5 l/Ha. Dan saat tanaman belum berbunga dan belum keluar akar gantung (umur 30 HST) serta setelah berbunga (umur 45HST), masing-masing penyemprotan dengan menggunakan herbisida Moxson 30 ml/liter air dan DMA 50 ml/liter air.
b. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan I pada umur 12 HST dengan menggunakan pupuk NPK 150 kg dan ditugal sekitar tanaman.Pemupukan susulan ke II dilakukan saat umur 25 HST mengunakan pupuk NPK 100 kg dan Urea 50 kg dengan cara didangir. Dan pemupukan susulan ke III saat berumur 35 HST dengan pupuk NPK 50 kg dan Urea 100 kg juga dengan cara didangir.
c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menerapkan prinsip pengendalian secara terpadu, seperti;penggunaan varitas unggul, pengaturan jadwal tanam dan pestisida buatan sendiri (campuran sunsilk dan rinso). Penyemprotan hanya dilakukan bila terjadi serangan ulat daun.
6. Panen dan Pasca Panen
Pemanenan dilakukan pada umur 120 hari atau masak fisiologis dengan ciri; daun mulai menguning, klobot berwarna coklat, biji bila ditekan dengan kuku tidak berbekas. Selain itu jika cuaca memungkinkan, dapat dilakukan penundaan panen dengan membiarkan tongkol jagung tetap pada batangnya. Adapun caranya dengan memotong daun bagian atas bertujuan untuk mengurangi kadar air jagung..
Penanganan pasca panen biasa dilakukan dengan mengupas klobot jagung lalu dimasukkan dalam karung selanjutnya segera dilakukan pemipilan dengan mesin pemipil jagung. Hal ini untuk menghindari kerusakan mutu jagung pipil.
7. Pemasaran
Untuk pemasaran hasil disesuaikan dengan permintaan pabrik, yaitu jagung glondongan atau jagung pipilan. Untuk jagung pipilan pabrik menghendaki standar mutu dengan kadar air sekitar 3% - 14%. Rata-rata harga jual jagung kering pipil berkisar antara Rp 3.000,- sampai Rp 3.100,-/kg. Jika mutu jagung yang dihasilkan kurang baik, pemasaran langsung ke peternak ayam, dengan harga jual Rp 2.000,- sampai Rp 2.100,-/kg. Hanya saja pemasaran ke pabrik pakan ternak (JAFFA COMFEED) dilakukan secara berkala untuk masing-masing kecamatan, yakni tiap 3 hari sekali.
Sumber: http://bbppbinuang.info/news46-teknik-budidaya-jagung.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar